Skip links

Kaya akan Produk Segar, Sedikit Pekerja

Pemandangan secara menyeluruh dari industri hortikultura Australia yang menunjukkan mengapa pasar Agtech di negara tersebut akan mencapai AUD 100 miliar dalam 10 tahun ke depan.

Australia adalah salah satu eksportir buah-buahan dan sayuran segar terbesar, mengekspor ke lebih dari 60 negara. Dan itu semua berkat padangan hortikultura yang unik.

Negara ini relatif besar ditunjangn dengan iklim yang bervariasi yang memungkinkan produksi sepanjang tahun dalam volume yang lebih dari cukup. Populasi kecil sebesar 26 juta jiwa juga menyebabkan surplus lebih lanjut. Terakhir, lokasinya di Belahan Bumi Selatan berarti Australia dapat menyediakan buah dan sayuran kontra-musiman ke pasar Belahan Bumi Utara.

(Sumber: Australian Horticulture Statistics Handbook)

Kekurangan tenaga kerja

Ada sisi negatif dari populasi kecil negara ini. Dimana hal ini akan membuat tenaga kerja menjadi langka, yang meningkatkan persaingan dan menaikkan biaya.

Mari kita gambarkan dengan lebih jelas. Biaya tenaga kerja per jam yang ditanggung pemberi kerja sekitar AUD 25-30 dan ini iuntuk tenaga kerja panen yang tidak terampil. Tambahkan biaya pekerja terampil dan intensitas tenaga kerja industri, dan biaya menumpuk dengan sangat cepat.

Pengeluaran inilah yang menjadikan biaya produksi pertanian Australia dimana  salah satu yang tertinggi di dunia.

Faktor COVID-19

Pekerja luar negeri memasok sebagian besar tenaga kerja ke Australia.

Penduduk Pulau Pasifik memanfaatkan Program Pekerja Musiman untuk mendapatkan pekerjaan bergaji lebih tinggi di pertanian di sini. Backpacker dari seluruh dunia bekerja di pertanian untuk memenuhi syarat mendapatkan visa tahun kedua melalui program Working Holiday Maker.

Pembatasan perjalanan karena COVID-19 dalam hal ini memperburuk ketersediaan tenaga kerja. Dampaknya sangat besar sehingga banyak petani memutuskan untuk tidak menanam atau mengurangi penanaman pada musim ini.

Mengotomatiskan jika memungkinkan

Karena Australia mengekspor sekitar 70% dari hasil pertaniannya, Australia menghadapi tantangan untuk memenuhi permintaan internasional.

Bagi petani Australia, ini berarti kualitas produk tidak dapat dinegosiasikan bahkan ketika pemotongan biaya menjadi wajib. Dan itu adalah filosofi yang bagus untuk dipegang, mempertimbangkan kualitas mengarah pada kepuasan, loyalitas, dan keuntungan yang lebih baik.

Jadi, ketika Anda tidak dapat berkompromi pada kualitas dan biaya produksi Anda tinggi, Anda mencari rute alternatif untuk memaksimalkan keuntungan. Untuk sebagian besar, itu adalah:

 

  • meminimalkan biaya tenaga kerja.
  • memperpendek rute dan waktu ke pasar.
  • menarik harga maksimum untuk produk.
  • Otomasi mencapai ketiganya.

 

Misalnya, seorang petani anggur mengandalkan pemetiknya untuk memanen buah sambil mengatur kualitas di setiap karton. Proses manualnya padat karya (baca: mahal). Lambat (baca: waktu lebih lama ke pasar). Dan itu mengarah pada masalah kualitas karena bias manusia (baca: harga lebih murah).

Sekarang bandingkan ini dengan alat penilaian kualitas otomatis. Teknologinya cepat, akurat, dan hemat biaya. Belum lagi, secara obyektif menilai kualitas pada setiap buah buah dan membawa konsistensi dalam berproduksi.

Intinya

Menggunakan teknologi, jika memungkinkan, tidak hanya menyamakan lapangan bermain bagi petani tetapi juga merubahnya menjadi untuk keuntungan mereka.

Itulah sebabnya para penanam dan pemasar di Australia menjadi pengadopsi awal teknologi ini. Dan itulah mengapa industri Agtech diprediksi akan mencapai AUD 100 miliar pada tahun 2030.

Author

Brett Jackson adalah Managing Director Fresh Domain, dengan pengalaman dua dekade di sektor pertanian. Intello telah bermitra dengannya untuk strategi masuk pasar Australia. Anda dapat terhubung dengannya di LinkedIn